Hello World
No Comments »
Filed under: ramadhaan
No Comments »
Filed under: ramadhaan
Ehmm, tarik nafas panjang dah hembuskan, fiuhhhh…
Sudah lama gak menyentuh blog saya ini ^.~
OK, let’s start this blog by saying:
‘Klakson-mu harimau-mu‘
Kenapa saya bilang seperti itu, yah selain mengikuti salah satu iklan di televisi, sepertinya pas saja jika saya ibaratkan klakson itu mewakili mulut atau lebih tepatnya kondisi emosi seorang pengendara mobil atau motor.
Klakson bisa diibaratkan luapan atau ucapan sang pemilik kendaraan. For example, ketika klakson kita bunyikan lama, biasanya karena kita ingin warning pengendara lain untuk segera meminggirkan kendaraan mereka. Atau kalau dibahasakan seperti:
‘Minggir dong‘
Nah kalau klaksonnya dibunyikan panjang dan berkali-kali berarti dia bisa dibahasakan: ‘Woy… minggir dong, gw pengen lewat neh!!!‘
Metode memencet klakson juga berbeda-beda, ada yg dipencet sangat dalam sehingga suaranya memekakkan telinga, ada juga yang hanya dipencet tidak terlalu dalam dan sebentar, biasanya sih cuma buat warning kalau kita mau mendahului or warning kendaraan depan kita. Kalau dibahasakan mungkin si pengendara mau berkata:
‘Maaf Mas/Mba, saya mau lewat nih‘
Nah itu tadi kan tipe orang yang memencet klakson. Sekarang saya mau bahas tingkat kesabaran orang ketika berkendara. Kadang saya merasa terganggu, risih sekaligus heran dengan tipikal pengendara motor atau mobil di Jakarta yang rata-rata tidak sabar (note: ini secara umum ya, dari pengalaman pribadi, bukan berarti semua orang seperti itu).
Saya paling merasa terganggu tatkala sedang berada di lampu merah saat lampu berubah dari merah ke hijau, masih aja ada orang yang membunyikan klakson dan nadanya itu lho seperti orang dah kebakaran jenggot. Padahal gak membunyikan klakson kendaraan akan tetap bergerak maju, toh lampunya kan sudah hijau. Kecuali ada pengendara yang ndablek udah tahu lampu hijau tapi masih gak bergerak.
Atau ada juga yang membunyikan klakson saat ada kondisi sedang macet, padahal kalau dia mengklakson berpuluh-puluh kali kalau kondisinya sedang macet, ya kendaraan tetep tidak akan bergerak. Lebih terganggu lagi tatkala ketika saya sedang berhenti disamping kendaraan besar (seperti truk dkk), lalu dia membunyikan klakson yang membuat saya terkaget-kaget. Waduh, pengendara seperti ini saya katakan tidak berperiketelingaan, bisa dibayangkan klakson jenis ini memiliki intensitas decibell yang berbeda dengan mobil kecil ataupun motor.
Klakson, oh klakson…
May06′09gendo@Home’5.30am
No Comments »
Filed under: finger's effects, my mind, nothin', syukur
Dapet link dari Facebook temen. Lumayan kocak.
Pesen sponsor: Jangan golput di tanggal 9 nanti ya ^.^
April03′09gendo@WismulLt.7’1.38pm
No Comments »
Filed under: nothin'
“Nama depan gw gak pake E, cukup 4 huruf aja, A-R-I-F ”
Entah sudah berapa kali saya bergugam, atau memprotes orang atau mencoret huruf E pada rentetan huruf nama depan saya. Entah berapa kali juga, setelah diingatkan, masih saja menemukan huruf E itu.
Uhhh, sebel dan sedih deh jadinya T_T
Nama saya Arif Damanhuri.
Namun, seringkali orang menuliskan nama depan saya dengan menyisipkan huruf E diantara I dan F. Jadinya A-R-I-E-F. Iya ARIEF pake E.
Kejadian ini sering (dan sering dan sering *lebai mode*) terjadi saat berkorespondensi via email, atau ketika nama saya tertera dalam daftar absensi, daftar training attendance, checklist ambil payslip. Sepertinya ada auto-correction when anybody wrote word ARIF, it will be automatically changed to ARIEF.
Aduh, masak harus bubur merah bubur putih lagi sih?
Heeee…… ^.^
March13′09gendo@Home’6.12am
5 Comments »
Filed under: my mind
Kalau umat Yahudi memuliakan hari Sabtu dan Nasrani memuliakan hari Minggu, kenapa kita sebagai umat Islam jarang memuliakan hari Jum’at ?!
***
‘Eh… ada UG‘
Sapa teman kerja saya, UJ alias Ustadz Joko alias Joko Wasito.
Seperti biasa, kalau kami bertemu dia sering memanggil saya seperti itu, UG alias Ustadz Gendo *nama yang gak komersil yah :p*, dan saya balik memanggil Ustadz Joko *lebih komersil
*.
Apatah lagi jika hari Jum’at saya bertemu dia dalam kondisi sedang memakai baju takwa or baju koko. Padahal saya sih orang biasa-biasa saja, justru saya merasa gak layak dipanggil seperti itu. Tapi tidak apa lah, toh demi pertemanan kami, bukankah itu dalam rangka menyenangkan hati teman juga hehehe ^_^
Well, setiap Jum’at saya memang sudah memprogram diri saya untuk mempersiapkan kondisi jiwa dan raga dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Karena menurut saya, hari Jum’at itu merupakan salah satu Hari Raya umat Islam. Beberapa fadhilat (keutamaan) dari hari Jum’at bisa dilihat di blog teman saya ini, si Diah.
Biasanya, pada hari Jum’at saya memotong kuku tangan dan kaki, mencukur kumis, mengenakan baju takwa or koko saat akan sholat Jum’at, berparfum sewangi mungkin *biasanya pakai parfum Oceanus-nya Body Shop atau Bvlgari Extrême*.
Alhamdulillaah, program saya ini sudah berjalan sejak Ramadhaan tahun lalu. Ya masih tahap belajar, karena saya belum bisa menggunakan baju takwa/koko sepanjang hari Jum’at, hanya pada saat menunaikan sholat Jum’at aja. Faktornya karena jenis baju takwa/koko nya yang masih model putih polos agak lecek *emang modelnya lecek*, juga karena masih malu dengan sepak terjang diri ini yang belum Islami.
Mungkin bagi sebagian teman kantor, saat saya terlihat menggunakan baju takwa/koko mereka agak sedikit heran. Mungkin mereka menyangka: ‘Ini orang lagi insyaf kali ya?‘
Maklumlah, saya seringnya bercelana jeans, baju kadang kaos kerah, kalaupun menggunakan kemeja jarang sekali tampil rapi alias baju kemeja-nya saya keluarkan dari ikat pinggang.
Lalu, kalau saya berpenampilan rapi, baju kemeja lengan panjang dan celana bahan, justru dibilang aneh. Ah, kalian ini gak bisa liat orang rapih dikit langsung dikomentari. Tapi tidak apa-apa, itu artinya kalian perhatian kepada saya *aiihh ge er sekali saya ini*
***
OK, kembali lagi ke hari Jum’at.
Kalau hari Senin, anak sekolah berseragam putih-putih. Ataupun hari Rabu beberapa karyawan menggunakan dasi, dan hari lainnya menggunakan batik. Lalu mengapa hari Jum’at justru berpenampilan santai a la kadarnya? Sekarang model seperti itu rasanya saya ingin inverse. Hari Senin boleh lah berpakaian rapi, hari Selasa hingga Kamis yah biasa-biasa aja. Nah pas hari Jum’at, insya Allah saya ingin menggunakan pakaian terbaik saya, karena saya ingin memuliakan hari Jum’at.
Saya ambil contoh, biasanya karyawan disekitar saya jam 11.30 sudah mulai menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat Jum’at, tapi ada juga yang datang sudah mendekati imam naik mimbar, tak jarang pula berlari-lari saat imam sudah berdiri untuk memimpin sholat Jum’at.
Duh! Sayang lho kesempatan hari Jum’at disia-siakan. Kan lebih enak jam 11 lewat sudah bersiap-siap wudhu, lalu segera menuju masjid, trus dapat shaf terdepan, bisa sholat sunnah tahiyatul masjid dan wudhu, bisa tilawah Al-Qur’an hingga khatib mulai naik mimbar. Lalu saat khotib naik mimbar, kita mendengarkan secara khusyu’ bukan khusyu’ tertidur. Dan hari jum’at juga salah satu waktu terbaik untuk memanjatkan do’a lho, salah satunya waktu diantara khutbah pertama dan khutbah kedua.
Ayo, persiapkan diri sebaik mungkin di setiap hari Jum’at.
Tapi lebih baik lagi jika di setiap hari.
Fastabiqul khoyrot ^.^
Feb19′09gendo@Home’6.30am
2 Comments »
Filed under: my mind, renungan, syukur
Tiba-tiba saja saya berada dalam ruangan lain, semacam ruang sebuah rumah. Saya tidak mengenal orang-orang disekitar saya-yang saat itu dikumpulkan menjadi satu dalam ruangan tersebut.
Lalu muncul segerombolan tentara Zionist, dan saat itu sempat terbersit rasa takut dalam diri saya. Sepertinya malaikat maut segera menghampiri saya. Benar saja dugaan saya, kamipun dibantai tanpa ampun dengan senjata mereka. Tapi ketakutan saya hilang sirna, saya seperti merasakan kematian tanpa rasa sakit sedikitpun. Jiwa ini serasa sebuah televisi yang dimatikan oleh sang pemilik telivisi. Pandangan saya yang saat itu melihat tentara-tentara Zionist, lalu sesaat tergantikan dengan moncong senjata otomatis dihadapan kedua mata saya dan sesaat itu pula pandangan saya menjadi gelap. Saya tidak merasakan sakit saat tubuh ini dikoyak dengan peluru-peluru mereka.
Allahu Akbar, sungguh indah mimpi yang kau berikan malam ini Ya Allah. Walaupun saat itu saya segera terbangun. Namun tidak ada jantung berdebar-debar layaknya saya mengalami mimpi buruk. Walaupun hanya sekedar mimpi, namun itu seperti nyata.
Inikah rasanya syahid untuk mempertahankan tanah air Palestine?
Mungkin ini sebuah hiburan Allah lewat mimpi, sebagai pelipur lara hati ini.
Alhamdulillaah, semoga Allah memudahkan proses kematian saya, aamiin Allahumma aamiin.
Feb17′09gendo@Home’5.45am
2 Comments »
Filed under: scratch of life
Alkisah, seorang Anak diberikan tugas oleh Ayahnya untuk pergi ke Salemba.
Karena si Ayah menganggap anaknya belum mengetahui rute yang harus ditempuh, mulailah Ia membuat rute angkutan yang bisa diambil, tentunya dengan asumsi dan baik menurut si Ayah. Rumah mereka di sekitar Tanjung Barat dan sang Anak menuju Salemba menggunakan sepeda motor.
Ayah: ‘Nak, nanti kamu bisa melewati rute Pasar Minggu, trus ke arah Kalibata, lanjut lagi ke Dewi Sartika, Kampung Melayu lurus terus mengikuti jalan nanti akan ketemu dengan Salemba’
Anak: ‘Oh gitu Yah? ada alternatif lain gak, Yah?’
Ayah: ‘Bisa juga ke arah Dewi Sartika-nya lewat Condet lalu nanti ketemu PGC dan nanti ketemu juga dengan jalan Dewi Sartika’
Anak: ‘OK Yah, wish me luck. Mudah-mudahan tidak ada hambatan di jalan’
Kemudian Anak tersebut berpamitan dan segera melaju dengan sepeda motornya mengikuti rute yang telah diterangkan.
Ternyata, di daerah Kalibata sepeda motornya mengalami kendala, setelah di cek sana sini, mulai dari busi, bensin dkk, tetap saja sepeda motor tersebut tidak dapat dihidupkan. Mau tidak mau, dia mencari bengkel terdekat. Setelah dianalisis, sepeda motor tersebut mengalami permasalahan di stang seher, dan harus turun mesin. Ya sudah, berhubung dia tetap mendapatkan amanah untuk pergi ke Salemba, maka dititipkanlah sepeda motor dibengkel tersebut.
Lalu dia bertanya kepada pemilik bengkel tersebut, rute yang harus ditempuh jika ingin ke Salemba. Sang pemilik bengkel menyarankan dia untuk menggunakan angkutan kereta api, karena selain lebih cepat, dijamin tidak akan terkena macet. Lain halnya jika menggunakan angkutan mikrolet ataupun bus ada kemungkinan terjebak macet.
Alhasil, sampailah si Anak tersebut di Salemba, dengan rute yang berbeda dari rute si Ayah.
***
Banyak jalan menuju Roma.
Sebuah ungkapan yang sarat makna. Terkadang kita melihat suatu rute lebih baik daripada rute yang lain, namun perlu diingat orang lain memiliki pandangan yang berbeda dalam menentukan rute tersebut.
Menurut saya, selama rute yang ditempuh tidak bertentangan dengan syariat Islam, saya akan menjalaninya, meskipun bagi orang lain itu bukan jalan yang mereka inginkan. Perbedaan adalah hal yang fitrah, tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut.
Teruntuk seseorang nan jauh disana, ini adalah pilihan saya, bisa jadi suatu saat nanti saya mengambil rute lain, yang mungkin bisa sama dengan Anda.
Pada akhirnya hanya Allah SWT yang menentukan baik tidaknya rute yang telah ditempuh hamba-Nya. Saya sebagai manusia yang penuh dengan kekhilafan hanya berusaha istiqomah untuk memperbaiki dan menggapai Surga-Nya. Entahlah jika rute yang ditempuh berbeda dengan orang lain.
note: picture taken without permission from here
Feb16′09gendo@Home’9.05pm
2 Comments »
Filed under: my mind, scratch of life
Pagi ini saya pergi ke Pinangsia di daerah Kota. Berangkat dari rumah jam 9.20 am, menggunakan jasa kereta ekonomi. Pas sampai stasiun Lenteng Agung jam 9.25 am, pas abis beli tiket, pas juga keretanya tiba *serba pas yah
*
Kereta ekonomi, entah sudah berapa tahun saya tidak menggunakan jasa ini. Ternyata gak berubah jauh dari kondisi ketika terakhir saya naik kereta ekonomi. Masih dengan segala macam aktifitas manusia.
Ada yang meminta-minta dengan kondisi tubuh yang serba ‘minim’, terseok” mendorong pangkal kaki dengan paha yang hilang. Ada juga yang jual jepitan rambut, minuman dan makanan ringan, buah”an, mengamen dengan metode karoke a la ibu” sambi menggendong anak kecil, ataupun a la seorang lelaki buta ditemani seorang wanita yang tidak buta.
Atau ada juga aktifitas manusia yang mondar-mandir ‘menyapu’ lantai dengan alat seadanya (ada yg menggunakan gulungan koran ataupun wiper air) lalu dengan wajah memelas meminta sumbangan atas jasa ’sapu’ mereka.
Disela-sela memperhatikan aktifitas manusia” tersebut, saya juga sedang ber-facebook mobile sekedar mengupdate status saya hehehe.
Menjelang stasiun kota, kereta berhenti cukup lama, saya agak sedikit terlena lalu tertidur beberapa saat. Sesampainya di stasiun Kota, segera saya menghubungi teman saya, Kang Asep. Beliau bertolak dari Bekasi bersama istrinya menemani saya untuk mencari keramik, cat dkk.
Saya pikir saya akan telat ½ jam, karena appointment kami jam 10 am. Ternyata beliau juga baru tiba di stasiun kota. Jadi kami berdua sama” telat, 1-1 hehehe.
***
Plan saya dan Kang Asep itu sebenarnya mencari keramik, cat interior dan exterior merk Dulux, lampu dinding dan taman, bath tub, closet duduk dll. Ternyata Pinangsia atau Glodok, hari minggu toko bangunannya banyak yang tutup. Alhasil, searching hari ini cuma mendapatkan offering keramik, itupun saya belum deal, mau saya compare dengan hasil searching di Panglima Polim next Saturaday.
Selesai searching, kami pun berpisah di depan loket karcis kereta api, waktu saat itu jam 12.30 pm. Saya bergegas masuk ke dalam stasiun, lalu mampir ke sebuah musholla untuk menunaikan sholat Zuhur. Setelah sholat Zuhur, pas pula saat itu kereta sudah terparkir manis, sepertinya menunggu ditumpangi oleh saya. Sesaat sebelum menaiki kereta, saya membeli sebungkus Beng-Beng, sekedar mengganjal perut saya yang mulai keroncongan. Ahh, nikmatnya cokelat tersebut ketika terlumat dilidah ini.
Kelar makan Beng Beng, saya kembali mengupdate status saya di facebook mobile. Lalu beberapa menit kemudian kereta sudah menggerakkan roda” besinya, mengantarkan saya menuju Selatan Jakarta.
Semilir angin Jakarta siang itu, membuat saya ingin memejamkan mata. Yupss, posisi mulut topi sudah saya turunkan hingga menutupi sebagian wajah, badan juga sudah dalam kondisi PW alias Posisi Wuenak. Ahh nikmat dunia kembali menyambangi dan saya pun tertidur pulas.
Sesekali saya terbangun karena senggolan ataupun suara orang” sekitar. Lalu tiba” saya terjaga, sepertinya saya sudah kebablasan dari stasiun tujuan-Lenteng Agung. Aha, dugaan saya diperkuat dengan suara anak kecil yang memberitahu ibunya bahwa mereka sudah di stasiun Depok Baru. It means saya sudah overlap sekitar 3 stasiun. Buru” saya berdiri dan turun dari kereta tersebut.
Kondisi masih agak linglung, maklumlah baru bangun tidur. Nasib oh nasib, saya kebablasan tidurnya. Alhamdulillah karcis yang saya beli ternyata sampai Depok walaupun tujuan saya Lenteng Agung. Bayangkan jika saya tertidur hingga stasiun Bogor, gak kebayang gimana menjelaskan kepada petugas yang memeriksa karcis saya.
Dasar saya yang masih linglung, bukannya saya naik kereta ke arah yang berlawanan eh saya malah berjalan kaki menuju terminal Depok, lalu menaiki sebuat mikrolet D-04 jurusan Depok-Pasar Minggu. Akibatnya saya terjebak macet. Mungkin jika saya menggunakan kereta menujut stasiun Lenteng Agung, saya sudah sampai ke rumah dalam waktu 20 menit. Nah dengan mikrolet, waktu yang saya tempuh almost 1 jam.
Sesampainya dirumah, saya sholat Ashar setelah itu makan dan berinteraksi dengan dunia maya. Jelang 4.30 pm, rasa penat kembali menghampiri. Saya berleha” didepan televisi menonton berita. Pukul 5 pm saya tertidur, namun kembali terbangun jam 5.40 pm.
***
Hmm, besok sudah hari Senin lagi ya? Capek dengan kerjaan lagi deh.
Hmmm face the reality ajja deh. Alhamdulillah masih punya kerjaan, masih banyak orang yang menganggur bahkan stress ataupun bunuh diri hanya gara” persoalan ekonomi.
Yaa Rabb
Mudahkanlah segala urusan dunia dan akhirat saya.
Aamiin
Feb01′09gendo@Home’8.10pm
3 Comments »
Filed under: scratch of life